Lifestyle » Trend and Fashion » Gerakan Hijau Para Peritel
Gerakan Hijau Para Peritel
Senin, 18 April 2011 - 09:16 wib
Gerakan hijau para peritel. (Foto: Google) ECO-FASHION bukan lagi sekadar wacana, peritel highstreet raksasa layaknya H&M dan Marks and Spencer terus menggalakkan lini busana ramah lingkungan yang terbuat dari katun organik atau poliester daur ulang dan diproduksi di pabrik dengan jejak karbon rendah.
Jika Anda termasuk mereka yang fanatik terhadap busana ramah lingkungan, berarti bra terbaru keluaran Marks and Spencer (M&S) harus menjadi bagian dari lemari Anda. Bagaimana tidak, bra berjenis “Autograph Leaves Multiway” itu merupakan bra pertama di dunia yang diklaim bebas karbon dan diproduksi di pabrik yang menggunakan panel surya sebagai sumber energi.
M&S mengatakan, bra yang dibanderol dengan harga 22 poundsterling tersebut akan segera bisa didapatkan secara online. Dalam keterangan resminya, M&S menyebutkan bahwa bra tersebut diproduksi di lingkungan yang eco-friendly di pabrik mereka di Sri Lanka.
Mike Barry, Kepala Departemen Bisnis Berkelanjutan M&S, mengatakan bahwa pabrik tersebut hanya menggunakan sepertiga energi dari pabrik manufaktur biasa dan menggunakan panel surya sebagai sumber penerangan.
Selain menggunakan panel surya, pabrik tersebut juga mendapatkan energi dari pembangkit tenaga listrik mikrohidro yang memakai aliran sungai sebagai tenaga penggerak.
Secara produksi, M&S memang memastikan bratersebut memiliki jejak karbon rendah. Sementara untuk menggantikan karbon yang terbuang dari distribusi, M&S memastikan pihak mereka akan menanam 6.000 pohon di sekitar pabrik setiap tahunnya.
Adapun sebagian pohon yang ditanam merupakan biota asli Sri Lanka guna melestarikan hutan di negara tersebut, sebagian lainnya adalah pohon buah atau tanaman produksi yang akan membantu komunitas lokal dari sisi ekonomi.
Gerakan penanaman pohon tersebut, ujar Barry, dilakukan untuk mengembalikan kondisi hutan Sri Lanka yang semakin rusak. Data statistik kehutanan Sri Lanka menunjukkan bahwa saat ini angka rata-rata deforestasi Sri Lanka adalah 1,6 persen per tahun.
Pihak M&S juga melakukan kontrol jejak karbon melalui Carbon Trust Footprinting Certification Company, yang akan memonitor produksi karbon pabrik secara reguler.
“Kami bekerja sama dengan Conservation Carbon Company untuk membantu petani lokal menanam kembali pepohonan sehingga hutan Sri Lanka bisa kembali utuh. Sebab, hutan tersebut merupakan rumah bagi satwa endemik, seperti ular hijau dan Loris tardigradus, yang terancam punah,” ungkap Barry.
“Harapan kami, dengan adanya bra bebas karbon ini, akan lebih banyak produsen garmen yang memproduksi busana ramah lingkungan di masa depan,” pungkasnya.
Busana ramah lingkungan juga menjadi fokus H&M. Peritel asal Swedia itu baru-baru ini melansir koleksi eco-friendly fashion dalam gaya kasual khas H&M. Koleksi bertajuk “Conscious Collection” itu hadir sebagai bukti bahwa eco-fashion pun bisa tampil sophisticated.
Conscious Collection dari H&M terdiri atas 96 koleksi dan ditujukan bagi pria, wanita, serta anak-anak. Helena Helmersson, Kepala CSR H&M mengatakan bahwa Conscious Collection mengusung tagline 3P, yang terdiri atas People, Planet, dan Profit.
“People berarti pekerja kami semuanya dibayar sesuai standar dan kami pun bekerja sama dengan adil dengan para petani. Sementara Planetberarti mengurangi emisi juga limbah dalam berproduksi, dan Profit berarti koleksi ini bisa memberi keuntungan bagi semua pihak, bukan hanya H&M,” tutur Helmersson.
Dari segi harga, kendati kain organik ataupun material daur ulang seperti yang digunakan H&M harganya melangit, H&M tetap berusaha menghadirkan koleksi dengan harga terjangkau. Satu potong minidress putih berbahan poliester daur ulang dibanderol dengan harga 29,99 pound sterling. Sementara kemeja berbahan katun organik dijual seharga 12,99 pounds.
Material lain yang digunakan H&M adalah kain tencel, katun alternatif yang dibuat dari pohon eucalyptus. Tapi tentu saja, kendatipun telah menggunakan bahan organik, tidak 100 persen koleksi green fashion ramah terhadap lingkungan.
“Selalu ada energi yang terbuang dalam produksi garmen,” ujar Koordinator Tren H&M Catarina Midby.
Kendati geliatnya semakin terasa,bisa dibilang perjalanan eco-fashion masihlah panjang. Meski telah semakin banyak diminati dan merangsek semakin dalam di industri fashion, eco-fashion masih merupakan niche dalam industri. Labellabel layaknya Suno, Edun, dan People Tree belum banyak diketahui orang. Berbeda halnya dengan Zara, Mango, Forecer 21, M&S atau H&M, yang dengan mudah menyelusup ke benak kaum urban.
“Tapi kita harus berbangga. Sepuluh tahun yang lalu tidak ada yang mau menggunakan koleksi ramah lingkungan, tapi sekarang label-label besar mulai mengeluarkan lini eco fashion,” ujar Kepala Desainer H&M Ann-Sofie Johansson.(SINDO//nsa
Tidak ada komentar:
Posting Komentar