Senin, 25 April 2011

Ketika Kebaya Kembali Pada Pakemnya

Lifestyle » Trend and Fashion » Ketika Kebaya Kembali Pada Pakemnya

Pesona Untaian Melati Ibu Pertiwi

Ketika Kebaya Kembali Pada Pakemnya

Senin, 25 April 2011 - 09:17 wib

Dwi Indah Nurcahyani - Okezone


Kebaya kembali pada pakemnya. (Foto: Indah Nurcahyani) DI tengah booming kebaya modern yang banyak digandrungi wanita karena dianggap menyesuaikan zaman serta memenuhi sisi kepraktisan kaum kosmopolit, sekelompok komunitas sibuk menggalakkan kembali kebaya pada pakemnya sebagai busana nasional.

Elegansi kebaya sebagai busana adiluhung yang tak lekang tergerus zaman memang sedianya sebuah fakta. Kebaya terbukti mampu menembus zaman, generasi tanpa membenturkan diri pada kekakuan. Dengai sisi fleksibilitas yang dimilikinya,  warisan leluhur itu sanggup menembus lorong modernisasi.

Melewati beragam fase kehidupan, ragam kebaya dan coraknya pun terus mengalami transformasi. Kesakralan dan keanggunan kebaya yang tampak dari bebetan jarik wiron dan bentuk kebaya yang tak penuh ornamen, menjadi ciri khas kebaya pada mulanya.

Namun, seiring dengan pergerakan zaman di mana masyarakatnya mengagungkan modernitas, nilai tersebut perlahan mulai terkikis. Kebaya hadir dengan model dengan napas modern, penuh payet, dan tak mesti dipadukan dengan tapian (kain jarik sebagai bawahan).

Meski tak bisa melangkah dengan cepat alias berjalan alon-alon (pelan-pelan) yang membuat pemakainya tampak anggun, tapi justru di situlah kesakralan busana nasional tersebut.

Namun apapun itu bentuknya, kebaya  sedianya memang perlu dilestarikan, terlebih kebaya berpakem, sehingga secara murni dapat menyempurnakan identitasnya sebagai busana nasional.

Jika wanita Negeri Sakura memiliki kimono, dan India memiliki kain sari, maka Indonesia pun diharapkan tetap identik dengan kebaya-nya.

Salah satu wanita Indonesia yang konsisten untuk melestarikan serta mempromosikan kebaya baik dalam pentas lokal atau kancah Internasional adalah mendiang Ibu Tien Soeharto. Semasa hidupnya, beliau dikenal sebagai sosok yang selalu mengenakan busana nasional tersebut baik dalam keseharian ataupun acara kenegaraan di luar negeri. Spirit seperti inilah yang kemudian ingin kembali digalakkan.

Guna mendukung pelestarian tersebut, desainer kebaya Andre Frankie yang didukung oleh Poppy Hayono Isman selaku Pengarah Artistik, Denny Malik selaku Pengarah Seni dan Koreografer, Otti Jamalus sebagai Penata Musik, serta 15 wanita Indonesia Pencinta Kebaya memberikan apresiasi dalam mengenang Ibu Tien Soeharto dalam busana dan budaya.

Dalam pagelaran yang dihelat di Sasono Langen Utomo, Taman Mini Indonesia Indah, Minggu (24/2/2011), Andre Frankie mengetengahkan 15 rancangan kebaya berpakem yang diperagakan para sosialita.

Setelah dibuka dengan tarian bedoyo, sepenggal lagu "Cublek-cublek Sueng" mengalun sebagai latar para model menyusuri catwalk. Tak ada lenggak-lenggok bak model profesional malam itu. Sisi keanggunan yang sesungguhnya lewat langkah perlahan-lah yang kental ditampilkan para model dadakan tersebut. 

Kemudian mengalun kembali lagu Juwita Malam, Sepasang Mata Bola dan Selendang Sutera yang menjadi latar berikutnya hingga 15 busana karya Frankie selesai diperagakan.

Berbeda dengan peragaan pada umumnya yang menampilkan kebaya dengan sentuhan modern, malam itu para tamu seperti diajak menjejak kembali sejarah mula kebaya dimana model busananya tidak bermain ornamen apapun, bersifat sederhana dan patuh pada pakemnya namun  tanpa meninggalkan kesan keanggunan yang dimilikinya.

"Pakem yang saya gunakan dalam rancangan ini sifatnya lebih menonjolkan jenis kebaya bukaan depan atau biasa disebut kebaya kutu baru yang dilengkapi dengan angkin layaknya obi yang dililitkan, kemudian dipadu dengan kain jarik wiron. Pakem di sini maksudnya suatu turun temurun leluhur sebagai bagian dari budaya yang harus terus dilestarikan," kata Andre Frankie kepada okezone yang menemuinya setelah peragaan malam itu.

Guna mengentalkan pakem berbusana kebaya, Frankie menggunakan bawahan batik wiron di mana batik tersebut dalam penggunaannya tidak dijahit dan hanya dipasang dengan cara dililit  seperti umumnya sistem yang ibu-ibu dulu sering lakukan.

"Kebaya yang saya suguhkan  malam ini benar-benar murni kebaya yang Ibu Tien dulu suka kenakan tanpa proses modernisasi sedikitpun," imbuh Frankie.

Dijelaskan Frankie, kebaya rancangannya banyak menggunakan bahan chiffon beludru, satin bunga-bunga, chiffon bunga-bunga serta lace. Sementara  untuk bawahannya, Frankie memadukan koleksinya dengan padanan jarik batik tulis lawas.

Frankie yang sudah memersiapkan olah kebaya tersebut sejak akhir tahun lalu berharap dengan adanya pagelaran tersebut dapat menggugah kesadaran masyarakat untuk melestarikan busana adiluhung tersebut.

"Kebaya sebagai bagian dari budaya bangsa memang sepatutnya  kita lestarikan. Jangan sampai kepedulian baru muncul ketika ada negara lain yang mengklaim-nya. Jadi kalau India punya kain Sari dan Jepang punya Kimono, maka diharapkan di mata dunia, Indonesia pun memiliki ciri khas berbusana lewat kebaya," tutupnya.(nsa

Tidak ada komentar:

Posting Komentar